CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Sabtu, 11 Februari 2012


..:: B A U ::..

Matius 7:1-5:
1"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."


Sore itu pulang dari kantor, karena harus cepat-cepat sampai ke rumah, saya naik taksi.
Biasanya saya naik bus.
Begitu masuk ke dalam taksi, saya mencium bau tidak enak.
"Joroknya sopir taksi ini," begitu pikir saya.
Sepanjang jalan, saya menutup hidung dengan sapu tangan.
Turun dari taksi, ketika hendak menaikkan tas ransel saya, tahu-tahu tangan saya menyentuh sesuatu.
Ada kotoran burung yang menempel di sana.
Rupanya itulah sumber bau yang mengganggu saya.
Saya menyesal telah menuduh sopir taksi itu, padahal masalahnya ada pada saya.

Salah satu tema yang diangkat oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit adalah tentang menghakimi terhadap sesama.
Intinya, kita jangan hanya jeli melihat keburukan orang lain, tetapi abai terhadap keburukan diri sendiri yang mungkin malah lebih besar.
Tuhan Yesus memakai kiasan selumbar dan balok.
Selumbar berasal dari kata Yunani, karfos, yang artinya: menjadi kering.
Kata ini menggambarkan sesuatu yang sangat kecil; bisa ranting kecil, serpihan jerami kecil, atau sekadar sehelai rambut yang tidak sengaja masuk ke mata.
Kontras dengan balok.

Ketika ketidakberesan atau ketidaknyamanan terjadi dalam hidup kita, jangan buru-buru menyalahkan orang lain; menuduhnya sebagai pihak yang bertanggung jawab atau biang keladi.

Sebaiknya introspeksi diri dulu, melihat ke dalam diri sendiri.
Mungkin kesalahannya justru ada pada diri kita.
Atau, sekurang-kurangnya kita ikut andil.
Seperti bau tidak enak yang saya cium di dalam taksi, ternyata sumbernya kotoran burung yang menempel di tas ransel saya.


~BERHENTI MENGHAKIMI MULAI MENGINTROSPEKSI DIRI~

ĤäĽЄĽüΎαĤ † Amin.

Ťūhα̲̅η ♍εmβεя̥ќα̲̅ƫɪ̍̊ kita semua.

0 comments: